Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Belajar Ukhuwah Islamiyah Dari Sajadah

Umat Islam benar-benar dalam ancaman perpecahan dalam beragama dan bernegara. Perbedaan pandangan politik dan idola seorang calon presiden menjadikan logika nalar sebagian muslim menjadi hilang. Bahkan perbedaan dukungan partai politik bahkan menghancurkan ukhuwah islamiyah dan juga keharmonisan dalam sebuah keluarga.

Partai politik, pandangan politik merupakan sebagai hiasannya dunia. Dapat juga dikatakan sebagai alat perjuangan yang memiliki tujuan akhir untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa madani. Tokoh-tokoh politik menyuarakan perbedaan yang terkadang menimbulkan pergesekan dalam masyarakat. Para ulama berjuang memberikan pencerahan-pencerahan agar ukhuwah Islamiyah dan Insaniyah dapat selalu ditingkatkan. Bagaimana mungkin sebuah alat perjuangan, menjadi penghancur tujuan perjuangan itu sendiri.

Hal ini mengingatkan akan suatu kejadian dalam sebuah masjid ketika akan dilakukan ibadah salat Jumat. Seorang anak muda membentangkan sajadahnya untuk berbagi dengan jamaah disampingnya. Dia tidak bertanya kepada jamaah disampingnya, apa partaimu, siapa capresmu. Begitu indahnya mereka berbagi alas sujud untuk mengahadap Sang Pencipta. Tidak membawa apa yang menempel dalam fisiknya atau bagaimana kepribadiannya. Keduanya khidmat dan khusyuk untuk beribadah pada Allah.

Loading...

Di shaf yang lain seorang pemuda tampak melipat sajadahnya, seakan enggan berbagi dengan jamaah disampingnya. Merasa dirinya paling bersih dan suci sehingga merasa risih untuk berbagi alas sujud dengan jamaah lainnya. Dia lupa bahwa Islam datang dari Allah melalui seorang Rasul Muhammad Saw yang luar biasa budi pekertinya.

Dalam kondisi politik masa sekarang, umat Islam benar-benar disibukkan dalam perbedaan pandangan politik. Kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan terkadang dibumbui dengan aroma politik menuju capres. Bahkan terkadang inti dari acara keagamaan tersebut hilang menjadi acara politik. Ketika jamaah kembali ke rumah masing-masing bukan ilmu agama yang teringat akan tetapi jargon-jargon politik.

Islam seharusnya menjadi “Imunisasi” yang masuk ke segala aspek masyarakat baik dalam politik maupun kehidupan sosial. Hukum-hukum Islam menjadi dasar untuk melakukan kegiatan bermasyarakat secara menyeluruh bagi umat muslim. Bukan terbalik dengan kondisi sekarang, politik menjadi virus yang menyerang dalam umat Islam, menjadikan adu domba antar masyarakat.

Hal ini dapat kita lihat dalam perbedaan antara para politikus ketika berbenturan dengan hukum-hukum Islam. Bukan mencari kebenaran hukum akan tetapi mencari “Pembenaran Diri” dengan hukum-hukum Islam.

Langganan berita lewat Telegram
Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Misbah Hadi Wiyonohttp://www.kcu-wooddoor.com
Berprofesi sebagai marketing produk kayu baik lokal/proyek dan export ke Asia, Amerika dan Afrika. Membina Ponpes Darrul Arash - Lebak - Banten Gusdurian dan tidak berafiliasi ke parpol manapun Belajar untuk lebih bermanfaat untuk agama dan bangsa ini sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

Semen Gresik Kosong Meski Harganya 70 Ribu

Riba

Musnah Karena Riba

TERPOPULER

Riba

Musnah Karena Riba

Semen Gresik Kosong Meski Harganya 70 Ribu

pemimpin

Memilih Pemimpin

close