Ingin Menulis di WARGA SERUJI? Klik disini

Air Susu Dibalas Air Tuba

Dalam bahasa Arab, judul yang menggunakan peribahasa di atas ini, juga dikenal dalam sebuah syair:

أعلمه الرماية كلَّ يومٍ

ولمَّا اسْتَدَّ ساعده رماني

U’allimuhur rimaayata kulla yaumin.

Falammasytadd saa’iduhu ramaani

(tiap hari aku mengajarinya teknis melempar, setelah tangannya kuat, justru ia melempariku)

هو من الأَبياتِ المشهورةِ الِّتي يُضرَبُ بِها المثَلُ فيمَن يُنكِرُ إِحسانَ مَن أَحسنَ إليهِ، ويُجازِيه بِالإحسَانِ إِساءةً.

(syair ini cukup terkenal, yang maksudnya menyifati orang yang buruk perangainya, karena menginkari kebaikan orang lain kepadanya, bahkan membalas kebaikan tersebut dengan keburukan).

Misalnya ada orang tua yang bernama Bapak H. Abdul Lathif, orangnya terkenal baik hati dan dermawan serta senang membantu orang lain, khususnya kepada para pemuda untuk dibimbingnya

Suatu saat ada seorang pemuda kampung, sebut saja bernama Faris yang datang kepadanya, mengadukan problem yang sedang dihadapi terkait kondisi keluarganya.

Lantas Bapak H. Abdul Lathif berusaha ikut menyelesaikan problem yang dihadapi, bahkan mengarahkan si pemuda itu agar ke depan ia dapat mandiri dengan cara menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Sayangnya, seakan kondisi jaman tidak berpihak kepada Bapak H. Abdul Lathif, karena setelah si pemuda menjadi pandai dan berhasil dalam pendidikannya, hanya saja salah pergaulan, pada akhirnya hampir setiap hari si pemuda itu melawan dan mencaci maki Bapak H. Abdul Lathif tanpa alasan yang jelas.

Kisah seperti ini pernah terjadi pula pada jaman dahulu kala.

Dulu ada sebuah istana di Iraq yang terkenal dengan Istana Khawarnaq milik seorang penguasa bernama Nu’man bin Syaqiqah, yang dibangun oleh seorang insinyur handal bernama Sinimmar.

Ketika Sinimmar berhasil merampungkan bangunan gedung istana itu, rakyatpun terkagum-kagum atas keindahan dan kekuatannya.

Kemudian Sinimmar berkata kepada keluarga Nu’man bin Syaqiqah, “Jika kalian membayarku dan memberikan hakku, niscaya aku akan membangunkan sebuah istana yang jauh lebih indah lagi, yang bisa memandang matahari ke manapun berputar.

Sayangnya, sebelum mau membayarnya, mereka berkata, “Kamu telah berjanji akan membangunkan istana yang lebih indah lagi, tetapi ternyata kamu tidak pernah melaksanakannya!”

Kemudian Nu’man bin Syaqiqah merintahkan agar Sinimmar dilemparkan dari tingkat paling atas di istana itu hingga meninggal dunia.

Sejak peristiwa itulah muncullah peribahasa berbunyi جزاء سنمار (jazaa-u Sinimmar) yang dalam istilah Indonesia dikatakan, “Air susu dibalas air tuba”, artinya kebaikan dibalas dengan keburukan.

Loading...
Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

TANGGAPAN TERBANYAK

TERPOPULER