close

1000 Jalan Hidayah: 1, Nabi Muhammad SAW

Kurang lebih empat puluh tahun sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi, terjadi peristiwa besar dalam sejarah. Makkah mendapat serangan dari tentara bergajah, dipimpin Abrahah Al-Habsy, gubernur dari Abyssinia (sekarang Ethiopia) yang menguasai Saba (sekarang di daerah Yaman). Abyssinia menganut agama Nasrani (setelah tahun 330 Masehi).

Serangan gagal. Tentara bergajah hancur, tanpa perang. Ka’bah yang diniatkan akan dihancurkan, masih utuh. Kaum Quraisy sebagai penghuni Makkah, aman. Namun, ada hal menarik yang menggelitik. Mari disimak.

Kekaisaran Ethiopia mengikuti imperium Romawi yang menganut agama Nasrani. Namun, sebelum itu Romawi pernah menganut agama Judaisme (Yahudi). Memang, bangsa Romawi pernah berinteraksi cukup lama dengan bangsa Israel.

Pergolakan terus terjadi di antara dua bangsa ini dalam politik kekuasaan Romawi, sekaligus melibatkan pertentangan antar suku dalam bangsa Israel sendiri: sebagian menolak Nabi Isa, sebagian yang lain mengikuti ajarannya. Pengikut ajaran Nabi Isa inilah yang menjadi agama Nasrani.

Yahudi, Nasrani dan Kaum Quraisy, memiliki akar agama yang sama, yakni agama langit (samawi), dengan garis kenabian sedarah. Ka’bah, yang jadi bangunan suci kaum Quraisy, dibangun Nabi Ibrahim, nenek moyang para nabi. Yahudi berakar pada ajaran Nabi Musa. Nasrani pada Nabi Isa. Namun, ketiganya (Yahudi-Nasrani-Kaum Quraisy) bermasalah.

Yahudi, menolak nabi dari ras mereka sendiri, Nabi Isa. Nasrani, hasil campur baur antaran ajaran Nabi Isa dengan keyakinan Romawi Kuno. Kaum Quraisy mencampur agama nenek moyangnya dengan paganisme (penyembahan berhala). Kalau begitu, hancurnya tentara bergajah secara ajaib itu pertanda apa?

Setelah peristiwa hancurnya tentara bergajah, otomatis kaum Quraisy di Makkah semakin terisolasi dari pengaruh Yahudi dan Nasrani. Mereka anggap, ajaran mereka yang paling dipilih oleh Allah. Namun sebenarnya, ajaran yang tertinggal dari Nabi Ibrahim hanya sebagian kecil, lebih banyak tercampur dengan penyembahan berhala.

Masa kecil Nabi Muhammad berada dalam kehidupan masyarakat Quraisy paska peristiwa tentara bergajah. Kaum Quraisy itu sendiri telah mengenal Allah sepenuhnya, sebagai mencipta alam semesta. Namun, mereka meyakini bahwa kekuasaan Allah itu juga dimiliki berhala-berhala. Hal yang membuat tidak masuk di akal.

Jauhnya masa hidup Nabi Ibrahim menyebabkan tak ada petunjuk yang meyakinkan tentang bagaimana seharusnya bertuhan itu. Ditambah lagi, tak ada informasi sedikitpun tentang ajaran-ajaran Nabi Musa, Nabi Isa dan lain-lainnya, terutama semenjak peristiwa hancurnya tentara bergajah.

Tak adanya petunjuk, membuat gundah. Maka, Nabi Muhammad mulai mengasingkan diri di tempat sunyi. Menarik, karena apa yang dilakukannya, persis sama dengan yang dilakukan nenek moyangnya, Nabi Ibrahim, ketika tak menemukan petunjuk apapun tentang bagaimana bertuhan.

Bedanya, Nabi Ibrahim memulai dari nol, mencari tuhan yang sebenarnya tuhan, yang kemudian menemukan bahwa tuhannya itu bukan yang ia lihat dan rasakan, namun yang mencipta semua apa yang dilihat dan dirasakan. Hingga akhirnya dirinya berserah kepada tuhan yang tidak tahu yang mana, agar memberinya petunjuk.

Sebelum menjadi nabi, Nabi Muhammad sudah mengenal Allah sebagai Tuhan Pencipta Alam Semesta, hanya belum tahu harus bagaimana. Keduanya, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad sama-sama berserah diri agar diberi petunjuk. Keduanya, mendapat hidayah terbesar, yaitu wahyu Allah.

Mengapa tulisan ini menempatkan Nabi Muhammad di nomor 1 dalam rangkaian tulisan 1000 jalan hidayah? Bukan Nabi Ibrahim yang ada di masa lebih awal? Tidak lain karena rangkaian tulisan ini bukan berdasarkan kronologi peristiwa atau zaman.

Nabi Muhammad mewakili semua para nabi sebagai manusia yang diberi petunjuk langsung oleh Allah. Selain itu, petunjuk langsung yang diterima Nabi Muhammad menjadi satu-satunya yang dapat terekam secara utuh dan sempurna di zamannya, ketika manusia sudah berada dalam tahap berbahasa yang semakin sempurna baik lisan maupun tulisan.

Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad berupa Al Quran adalah literasi paling kompleks dan lengkap tanpa ada perubahan sama sekali hingga saat ini, setelah melewati empat belas abad lamanya. Allah menjaganya dalam otak-otak manusia, berupa kemudahan untuk dihafal. Tidak bergantung kepada lembaran kertas dan tinta. Adapun mushaf Al Quran yang disusun sejak Khalifah Abu Bakar dan Utsman, berfungsi sebagai standarisasi bacaan, bukan bukti Al Quran.

Maka, dimulailah rangkaian tulisan 1000 Jalan Hidayah, dengan menempatkan Nabi Muhammad SAW di urutan pertama, yang menerima hidayah terdahsyat, Al Quran. Hidayah diberikan kepada orang yang bersikap merendah-pasrah agar diberi petunjuk Sang Pencipta.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan tersebut, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
Muhammad Hanif Priatama
Penulis bebas yang bebas menulis untuk belajar menjadi manusia sesungguh-sungguhnya. https://t.me/sobatbersih
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan isi komentar anda
Masukan Nama Anda

Loading...

TANGGAPAN TERBANYAK

pubsec

Ngerumpi tentang Sektor Publik

TERPOPULER